Parikhin, Kakek Tua Pengayuh Becak Warga Bojongbata Pemalang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

Akbarindonesia.com//Pemalang – Di tengah semakin berkembangnya transportasi modern dan layanan kendaraan berbasis aplikasi, sosok Parikhin ( 78 ) seorang kakek lanjut usia asal Bojongbata, Kabupaten Pemalang, masih setia mengayuh becak untuk mencari nafkah. Tubuhnya yang tak lagi muda tidak membuatnya menyerah menghadapi kerasnya kehidupan.
Becak kayuh menjadi bagian dari perjalanan hidup Parikhin selama puluhan tahun. Dengan tenaga yang tersisa, ia tetap menunggu calon penumpang di sekitar Pasar Bojongbata dengan pangkalan tetapnya di halte bus setempat, menjalani hari demi hari dengan kesederhanaan dan ketekunan.
Kisah Parikhin bukan semata tentang seorang pengayuh becak. Lebih dari itu, perjalanan hidupnya menggambarkan keteguhan seseorang dalam mempertahankan pekerjaan yang telah menjadi sumber penghidupan selama bertahun-tahun.
Parikhin dikenal sebagai salah satu pengayuh becak yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Becak yang digunakannya mungkin tidak semewah kendaraan modern, tetapi kendaraan sederhana itu telah menjadi saksi perjalanan hidupnya selama puluhan tahun.
Parikhin disebut telah mengayuh becak sejak era 1960-an dan tetap menjalani profesinya hingga usia lanjut. Ia juga biasa menunggu penumpang di sekitar halte Jalan Gatot Subroto dan kawasan Pasar Bojongbata.
Aktivitas mengayuh becak bukan pekerjaan ringan, terlebih bagi seseorang yang telah memasuki usia senja. Setiap kayuhan pedal membutuhkan tenaga fisik, sementara penghasilan yang diperoleh juga tidak selalu pasti.
Namun, bagi Parikhin, pekerjaan tersebut bukan sekadar mencari uang. Mengayuh becak telah menjadi bagian dari kehidupan yang dijalaninya dengan sabar.
Kondisi para pengayuh becak memang memiliki tantangan tersendiri. Sebuah penelitian Universitas Diponegoro mengenai pengayuh becak di Pasar Pagi Pemalang menunjukkan bahwa aktivitas mengayuh dengan gerakan berulang, durasi kerja panjang, serta beban kerja dapat meningkatkan risiko gangguan pada otot dan rangka.
Karena itu, kisah Parikhin sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas sederhana di kawasan pasar terdapat pekerja sektor informal yang menggantungkan kehidupannya pada tenaga fisik.
Salah seorang warga Bojongbata, Slamet (55) mengatakan bahwa Parikhin merupakan sosok yang dikenal gigih dan tidak mudah mengeluh.
“Kami sering melihat Mbah Parikhin duduk di atas becaknya menunggu penumpang. Meski usianya sudah tua, beliau tetap berusaha bekerja. Menurut saya, itu menunjukkan semangat hidup yang luar biasa,” ujar Slamet,pada Kamis ( 10/9/2026 ).
Senada dengan Slamet Warga lainnya, Rina (42), juga memberikan apresiasi dalam pernyataan fiktif/simulasi terhadap para pengayuh becak yang masih bertahan.
“Becak memang sudah semakin jarang digunakan. Tetapi keberadaan pengayuh becak seperti Mbah Parikhin merupakan bagian dari cerita kehidupan masyarakat Pemalang. Mereka tetap harus kita hormati,” ujarnya .
Kisah Parikhin juga memperlihatkan perubahan wajah transportasi masyarakat. Jika dahulu becak menjadi salah satu moda transportasi yang banyak digunakan, kini pengayuh becak harus menghadapi persaingan dengan sepeda motor, kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga transportasi berbasis aplikasi.
Meski demikian, becak masih memiliki pengguna tersendiri, terutama masyarakat yang membutuhkan perjalanan jarak dekat atau mengangkut barang dari kawasan pasar.
Bagi sebagian warga, menggunakan jasa becak juga bukan sekadar persoalan transportasi.
Ada nilai sosial yang melekat karena penumpang berinteraksi langsung dengan pengayuh yang mencari nafkah dari kayuhan pedal.
(Ragil)